![]() |
| Foto: Pdt. Melky Molle (Kabid Pemuda GMIH) |
Dukung proses tersebut, Ketua Bidang (Kabid) Pemuda GMIH, Pdt. Melky Molle menilai bahwa penyatuan GMIH akan sangat berdampak positif bagi pembangunan sosial di wilayah Maluku Utara.
Menurutnya, gereja yang solid dapat menjadi mitra penting pemerintah dan masyarakat dalam membangun pendidikan, memperkuat nilai-nilai moral, serta menjaga kerukunan antarumat beragama.
Dengan demikian, proses penyatuan ini baginya memiliki makna yang lebih luas dari sekadar urusan internal gerejawi.
Melky juga mengajak generasi muda untuk terus mendorong budaya dialog dan rekonsilisasi, serta ikut menjaga suasana yang kondusif menjelang SSIB tersebut.
"Dukungan moral, sikap saling menghormati, serta komitmen terhadap perdamaian menjadi kontribusi nyata generasi muda dalam mengawal proses penyatuan," ucap Melky.
Selain itu, "Saya percaya bahwa masa depan umat yang damai berawal dari kemampuan semua pihak untuk mengutamakan persatuan," sambungnya.
Kabid Pemuda GMIH pun berharap agar SSIB GMIH tahun 2026 ini menjadi titik balik bagi terwujudnya gereja yang semakin kuat, solid, dan bersatu.
Serta, juga semakin relevan bagi konteks kehidupan umat percaya, secara khusus GMIH di Maluku Utara dan Indonesia.
"Persatuan bukan hanya tujuan organisasi, tetapi juga panggilan kesaksian yang menuntut kerendahan hati, pengampunan, dan komitmen syn-hodos (berjalan bersama)," tutur Kabid Pemuda GMIH.
Disamping itu, Melky juga mengajak setiap orang agar berefleksi dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia, maupun dari ajaran Yesus Kristus mengenai perdamaian.
"Dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia, kita belajar bahwa perdamaian lahir dari kesediaan untuk saling mendengar dan menghargai perbedaan," tuturnya.
Sedangkan, "Dari ajaran Yesus Kristus, kita semua tahu bahwa perdamaian dimulai dari kesadaran dan pengampunan," lanjut Melky.
Dengan demikian, Melky berharap agar SSIB 2026 menjadi ruang perjumpaan yang jujur, terbuka, serta berlandaskan semangat kasih dan persaudaraan.(Redaksi)
