Dahrun Kasuba Dorong Pemda Halsel Perkuat Dukungan Pembinaan Atlet Pencak Silat

A- A+
Share:

Foto kontingen Atlet Pencak Silat Halsel di Sofifi

CORONGTIMUR.COM, 
SOFIFI, Maluku Utara – Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Piala Gubernur Cup II Provinsi Maluku Utara resmi dibuka di Sofifi, Sabtu (5/9/2026). Ajang ini bukan sekadar menjadi panggung perebutan prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi para atlet muda untuk menunjukkan hasil pembinaan sekaligus menguji mental dan kemampuan mereka di level provinsi.

Sebanyak 360 peserta dari delapan kabupaten/kota di Maluku Utara ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. 

Para atlet datang membawa nama daerah dan perguruan masing-masing, dengan harapan mampu memberikan hasil terbaik setelah melalui proses latihan dan persiapan yang tidak singkat.

Pembukaan kejuaraan dihadiri langsung Wakil Gubernur Maluku Utara yang juga Ketua KONI Maluku Utara. Hadir pula Ketua Pengprov IPSI Maluku Utara, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Maluku Utara, Karo Humas dan Protokoler, para pelatih, wasit dan juri, serta unsur pencak silat militer.

Di tengah geliat kompetisi tersebut, perhatian juga tertuju pada kontingen Halmahera Selatan. 

Ketua Pengcab IPSI Halsel, Dahrun Kasuba, hadir langsung sekaligus membawa 16 atlet untuk bertanding dalam Kejurda Piala Gubernur Cup II.

Ke-16 atlet tersebut berasal dari sejumlah kategori, mulai dari pra-remaja, remaja hingga dewasa. Kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa potensi atlet pencak silat di Halmahera Selatan cukup besar dan membutuhkan ruang pembinaan yang konsisten.

Bagi Dahrun Kasuba, kehadiran para atlet Halsel di Sofifi bukan sekadar untuk mengejar medali. Lebih dari itu, kejuaraan menjadi kesempatan bagi para atlet muda untuk merasakan atmosfer pertandingan, membangun mental bertanding dan belajar menghadapi lawan dari berbagai daerah.

Namun, di balik semangat para atlet yang bertanding membawa nama Halmahera Selatan, Dakas melihat masih ada pekerjaan besar yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan tidak hanya memberikan perhatian ketika atlet berhasil meraih prestasi, tetapi juga hadir sejak proses pembinaan, latihan hingga persiapan menuju kejuaraan.

Menurutnya, banyak atlet muda yang memiliki kemampuan dan semangat berprestasi, namun membutuhkan dukungan yang lebih nyata agar potensi tersebut tidak berhenti di tengah jalan.

“Anak-anak kita ini punya minat dan bakat. Mereka harus diberikan ruang untuk berkembang. Pemerintah daerah harus hadir memberikan dukungan, terutama untuk kegiatan-kegiatan kejuaraan seperti ini,” kata Dahrun.

Ia berharap Pemkab Halsel dapat mengalokasikan anggaran yang lebih memadai bagi pembinaan olahraga, khususnya cabang pencak silat. Dukungan tersebut dinilai penting karena sebagian atlet yang dibina masih berstatus pelajar SMP maupun SMA.

Bagi Dakas, pembinaan atlet pelajar bukan hanya berbicara mengenai olahraga. Di dalamnya terdapat upaya membentuk karakter, kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab dan semangat untuk berprestasi.

Karena itu, ia meminta agar pembinaan atlet tidak dilakukan secara sporadis hanya ketika ada kejuaraan. Persiapan atlet, kata dia, semestinya dilakukan secara berkelanjutan melalui program latihan, pemusatan latihan, kompetisi dan pendampingan yang jelas.

“Jangan nanti atlet sudah berprestasi baru kita memberikan perhatian. Mereka justru membutuhkan perhatian ketika sedang berproses dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan,” tegasnya.

Dakas juga secara khusus menyoroti peran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta KONI Halmahera Selatan. 

Ia berharap kedua lembaga tersebut dapat lebih aktif turun melihat kondisi para atlet yang sedang menjalani persiapan menghadapi kejuaraan.

Menurutnya, perhatian pemerintah tidak selalu harus dimaknai dalam bentuk materi. 

Kehadiran, komunikasi, motivasi dan kepedulian terhadap perjuangan atlet juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri mereka.

Para atlet, lanjutnya, harus merasa bahwa perjuangan mereka membawa nama daerah benar-benar mendapatkan perhatian.

“Dispora dan KONI Halsel mestinya lebih fokus melihat atlet-atlet kita yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan seperti ini. Mereka perlu merasa bahwa ada kepedulian dan perhatian dari pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia menilai, ketika atlet merasa diperhatikan, semangat untuk berlatih dan membawa nama daerah akan semakin besar. 

Sebaliknya, minimnya perhatian terhadap proses pembinaan berpotensi membuat potensi-potensi muda kehilangan ruang untuk berkembang.

Dakas ingin persoalan ini tidak dilihat hanya sebagai kritik terhadap pemerintah, tetapi sebagai dorongan agar seluruh pihak bersama-sama membangun ekosistem olahraga yang lebih baik di Halmahera Selatan.

Sebab, menurutnya, prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik seorang atlet yang berdiri di podium membawa medali, ada proses latihan panjang, keringat, kedisiplinan, pengorbanan waktu dan dukungan banyak pihak.

Karena itu, ia berharap Kejurda Pencak Silat Piala Gubernur Cup II dapat menjadi momentum bagi Halmahera Selatan untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat sistem pembinaan atlet ke depan.

“Kalau kita ingin atlet Halsel berprestasi, maka pembinaannya juga harus serius. Jangan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi mari kita perhatikan prosesnya,” pungkas Dahrun Kasuba.

Dengan membawa 16 atlet ke ajang tingkat provinsi, IPSI Halmahera Selatan setidaknya telah menunjukkan komitmen untuk membuka jalan bagi generasi muda pencak silat.

Tantangannya kini adalah bagaimana potensi tersebut terus dirawat, dibina dan diberikan kesempatan untuk berkembang hingga mampu mengharumkan nama Halmahera Selatan di panggung yang lebih tinggi.

AS.

Share:
Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.


Terkini