AI Tidak Boleh Gantikan Jurnalis Manusia, Tetapi Hanya Alat Bantu

A- A+
Share:

 


Oleh: Fahcry Fabanyo | Programer LTI Jakarta

Jakarta – Corongtimur.com | Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam industri media membawa perubahan besar dalam cara berita diproduksi dan didistribusikan. Dari laporan keuangan otomatis hingga analisis tren berbasis data, AI kini mampu menyusun informasi dalam hitungan detik. Namun, satu hal yang perlu ditegaskan: AI tidak boleh menggantikan jurnalis manusia, melainkan hanya menjadi alat bantu.

Dari perspektif teknologi informasi, AI bekerja dengan sistem algoritma, machine learning, dan pemrosesan big data. Ia mampu membaca pola, mengolah data dalam jumlah besar, dan menghasilkan teks secara otomatis. Dalam konteks ini, AI sangat efektif untuk pekerjaan teknis seperti transkripsi wawancara, monitoring isu, analisis sentimen publik, hingga penyusunan laporan berbasis data statistik.

Namun jurnalisme bukan sekadar menyusun data menjadi kalimat. Jurnalisme adalah soal nurani, etika, empati, dan tanggung jawab sosial. Mesin dapat menghitung, tetapi tidak memiliki intuisi moral. Algoritma dapat memprediksi tren, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap dampak sosial dari sebuah pemberitaan.

Dalam dunia IT, dikenal konsep human-in-the-loop, yaitu sistem di mana manusia tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam penggunaan teknologi. Prinsip ini sangat relevan dalam jurnalisme. AI dapat mempercepat proses kerja redaksi, tetapi validasi fakta, penentuan sudut pandang, serta pertimbangan etika harus tetap berada di tangan jurnalis.

Teknologi seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan menghilangkannya. AI adalah akselerator produktivitas, bukan pengganti integritas. Jika digunakan dengan bijak, AI justru dapat membantu jurnalis lebih fokus pada kerja investigatif, pendalaman isu, dan penguatan kualitas narasi.

Era digital menuntut kolaborasi antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia. Jurnalis yang memahami teknologi akan lebih siap menghadapi perubahan, sementara teknologi yang dikendalikan manusia akan tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab publik.

Masa depan jurnalisme bukan tentang manusia versus mesin, melainkan manusia bersama mesin. Karena pada akhirnya, kepercayaan publik tidak dibangun oleh algoritma, melainkan oleh integritas dan nilai kemanusiaan yang dimiliki jurnalis.(Red)

Share:
Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Terkini