Lima dari Enam Sumur Mengering, Warga Kukupang Terancam Kehabisan Air dalam 7 Hari

A- A+
Share:

Dokumentasi warga yang antrian di sumur untuk mendapatkan Air minum

CORONGTIMUR.COM, HAL-SEL — 
Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih. 

Kondisi tersebut kembali dirasakan warga Desa Kukupang, Kecamatan Kepulauan Joronga.

Krisis air bersih membuat warga setempat kini terpaksa mengandalkan satu-satunya sumur yang masih memiliki debit air. 

Warga harus mengambil air secara bergiliran, bahkan sebagian harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan air yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Menurut keterangan warga di lokasi, dari enam sumur yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat, lima di antaranya telah mengering total akibat kemarau.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua BAJO INSTITUT, Arwadi Haya, S.Pd.I, yang turun langsung meninjau kondisi warga pada Jumat (18/9/2026).

Arwadi mengatakan, persoalan krisis air bersih di Kukupang bukan persoalan baru. Menurutnya, masyarakat setempat telah puluhan tahun bergantung pada air hujan dan sumur gali dengan debit air yang terbatas.

“Ini bukan baru terjadi. Warga Kukupang sudah puluhan tahun bergantung pada air hujan dan sumur gali. Kalau kemarau panjang, masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Arwadi.

Dalam kondisi tertentu, lanjutnya, warga bahkan harus mengambil air dari luar desa menggunakan perahu untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Padahal, Desa Kukupang memiliki potensi sumber air di wilayah Jikolamo yang berjarak sekitar delapan kilometer dari permukiman warga. Namun, potensi tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Kepala Desa Kukupang, Fauzi Ibrahim, membenarkan adanya potensi sumber air di Jikolamo. Ia menyebut debit air di lokasi tersebut cukup besar.

Menurut Fauzi, berdasarkan survei swadaya yang pernah dilakukan masyarakat, tiga mesin alkon sekalipun disebut tidak mampu mengeringkan sumber air tersebut.

“Air di Jikolamo itu besar. Tiga mesin alkon saja tidak mampu mengeringkannya saat kami survei secara swadaya,” ujar Fauzi.

Namun, keterbatasan anggaran desa menjadi salah satu kendala pemerintah desa untuk membangun sistem penyediaan air bersih secara mandiri.

“Dana Desa kami terbatas, sehingga belum bisa mengalokasikan anggaran untuk pengadaan air bersih. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah daerah agar bisa berkolaborasi menangani krisis air bersih di desa kami,” katanya.

Melalui rilis yang diterima media ini, warga bersama tokoh agama, tokoh adat dan pemuda Desa Kukupang menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan.

Pertama, warga meminta Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air bersih yang mereka alami.

Kedua, warga meminta tim teknis Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) serta BPBD Halmahera Selatan segera turun melakukan survei ke sumber air Jikolamo.

Survei tersebut dinilai penting untuk melihat kemungkinan pembangunan jaringan perpipaan maupun sarana air bersih permanen sebagai solusi jangka panjang bagi masyarakat.

Ketiga, warga meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mempertimbangkan penetapan status darurat kekeringan di Kecamatan Kepulauan Joronga agar dukungan anggaran, termasuk kemungkinan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) sesuai ketentuan yang berlaku, dapat segera diarahkan untuk penanganan kondisi tersebut.

“Karena kami sudah bertahun-tahun menderita. Setiap musim kemarau kami harus berhemat hanya untuk minum,” ungkap warga.

Warga juga menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar kunjungan, melainkan tindakan nyata untuk memastikan ketersediaan air bersih.

“Kami butuh air, bukan kunjungan. Kami minta Bupati dan Wakil Bupati Halsel langsung turun membantu kondisi kami di Kukupang,” ujar warga di lokasi.

Masyarakat memperkirakan, apabila tidak ada langkah penanganan dalam waktu sekitar tujuh hari ke depan, persediaan air yang masih tersisa berpotensi semakin menipis hingga tidak mencukupi kebutuhan konsumsi warga.

Selain menunggu langkah pemerintah daerah, warga Kukupang juga berencana menemui DPRD Halmahera Selatan dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan untuk menyampaikan secara langsung kondisi krisis air bersih yang tengah mereka hadapi.

Krisis tersebut sekaligus kembali menyoroti kebutuhan akan solusi penyediaan air bersih yang tidak hanya bersifat darurat saat musim kemarau, tetapi juga berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi sumber air yang tersedia di wilayah Desa Kukupang.

AS.

Share:
Komentar
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.


Terkini